Dekonstruksi Wacana Kepemimpinan Muktamar Pemuda Persis 2026

Joeang Elkamali
Mar 27, 2026

Ade Rahmat (Penulis) ketika berdiskusi serius di Agenda Turba PP. Pemuda Persis.

dan oligarki pergerakan. Alih-alih digunakan untuk membuka akses pemberdayaan bagi umat secara luas, jejaring tersebut acap kali hanya dimanfaatkan untuk mengamankan kebermanfaatan, privilese, dan distribusi sumber daya bagi kelompok atau lingkar pertemanannya sendiri. Akibatnya, keberadaan mereka tidak benar-benar dirasakan dan diterima oleh umat sebagai satu entitas dakwah yang kehadirannya mutlak dibutuhkan. Aktivisme tanpa landasan keberpihakan yang tulus hanya akan menghasilkan manuver elitis yang terasing dari akar rumput.

Selain Dekonstruksi terhadap ketiga pilar tersebut, wacana yang menuntut hadirnya kelembagaan berbasis sistem murni maupun figur pemimpin berkarakter sempurna (yang memadukan keluasan ilmu, integritas moral, dan daya pengaruh sosiologis) juga perlu dikritisi secara rasional. Mengonstruksi parameter kepemimpinan yang bersandar pada das Sollen (apa yang seharusnya terjadi) tanpa memperhitungkan das Sein (apa yang senyatanya terjadi) adalah sebuah logical fallacy (kesesatan berpikir) dalam tata kelola organisasi. Memimpikan hadirnya kepemimpinan yang secara paripurna mampu mengintegrasikan seluruh keunggulan fungsional tersebut menjelang Muktamar 2026 adalah sebuah asertasi yang ahistoris dan mengabaikan krisis multidimensi yang sedang melanda kualitas sumber daya kader kita hari ini.

Jika pada kenyataannya stok kader yang mengisi bursa suksesi kepemimpinan hari ini adalah mereka yang gagap terhadap visi ekologi, miskin desain ekonomi berkelanjutan, dan masih gemar bersembunyi di balik gimik statistik administratif, maka memperdebatkan metodologi ideal atau kriteria pemimpin utopis adalah kesia-siaan intelektual. Muktamar tidak memiliki kekuatan gaib untuk menyulap realitas keterbatasan kader menjadi kesempurnaan secara instan.

Oleh karena itu, Muktamar 2026 tidak boleh direduksi menjadi sekadar etalase pertarungan wacana filosofis kaum elite. Perhelatan ini harus dikembalikan pada fungsinya sebagai forum muhasabah yang paling jujur.


1 2 3 4

Related Post

Post a Comment

Comments 0