Dekonstruksi Wacana Kepemimpinan Muktamar Pemuda Persis 2026

Joeang Elkamali
Mar 27, 2026

Ade Rahmat (Penulis) ketika berdiskusi serius di Agenda Turba PP. Pemuda Persis.

Banyak kader dengan latar belakang keagamaan yang kuat justru mengalami stagnasi manajerial karena terbiasa bergelut dengan diskursus teks-teks langit, namun gagap saat dituntut melakukan pembacaan terhadap realitas sosial yang dinamis. Kegagapan ini terwujud dalam ketidakmampuan menawarkan solusi yang berdampak riil pada wilayah sosial-ekonomi umat, kebuntuan dalam merespons kebijakan politik publik, hingga defisit literasi mengenai isu lingkungan hidup. Paradigma kepemimpinan mereka kerap kali belum mampu menerjemahkan konsep "berkelanjutan" (sustainable development) ke dalam kerangka tata kelola peradaban Islam yang praksis.

Kedua, gugatan terhadap pilar Intelektual dan Akademisi. Keterlibatan kaum intelektual dalam struktur jamiyyah sering kali diklaim sebagai motor perubahan. Namun, pada praktiknya, perubahan yang ditawarkan acap kali tereduksi menjadi sekadar gimik administratif. Inovasi kelembagaan seperti perumusan Indeks Performa Jamiyyah, misalnya, sering kali diagungkan sebagai capaian pembaruan. Padahal, jika dibedah secara kritis, indeks semacam itu tak jarang hanya berakhir sebagai bagan data statistik dangkal yang memotret kuantitas program kerja yang terlaksana atau tidak terlaksana. Itu hanyalah jebakan kuantifikasi programmatik, bukan instrumen pengukur dampak. Apabila pilar ini benar-benar mewakili kapasitas akademik, seharusnya mereka mampu menghadirkan metode evaluasi keberdampakan dakwah yang teruji secara ilmiah, seperti penggunaan Social Return on Investment (SROI). Instrumen rasional semacam SROI mampu mengukur seberapa besar investasi sosial jamiyyah benar-benar menghasilkan perubahan struktural di bidang pendidikan, ekonomi, politik, dan ekologi, bukan sekadar memuaskan laporan pertanggungjawaban di atas kertas.

Ketiga, ilusi pilar Aktivisme. Narasi yang memosisikan jejaring Aktivis berskala nasional sebagai ujung tombak organisasi juga menyimpan cacat empiris. Dalam banyak kasus, jejaring nasional yang dibangun oleh para kader Aktivis justru terjebak pada eksklusivisme


1 2 3 4

Related Post

Post a Comment

Comments 0