Andri Nurkamal (tengah), Penulis.
KOSADATA- Menerima lima belas poin penegasan dari Kang Jajang Hidayatulloh terasa seperti menikmati hidangan penutup yang kaya rasa dalam sebuah perjamuan intelektual. Konsistensi beliau dalam mengawal manhajiyyah (kerangka metodologis) dan al-niẓām (sistem) menunjukkan ketulusan dan tanggung jawab besar seorang pengampu kaderisasi di tingkat pusat. Mujadalah (dialektika) antara kita ini perlahan telah berevolusi: dari sekadar diskursus tentang "siapa" yang memimpin, menjadi perdebatan filosofis tentang "bagaimana" kita mendesain kepemimpinan itu sendiri.
Menelaah seluruh poin sang raka, saya menangkap satu benang merah kecemasan yang sangat beralasan: ketakutan bahwa gagasan besar tentang "Sang Dirigen" hanya akan berhenti sebagai retorika simbolik jika tidak diturunkan menjadi mesin birokrasi dan indikator operasional yang terukur.
Untuk itu, sebagai ikhtiar mencari sintesis dari tahafut al-afkar (persentuhan pemikiran) ini, izinkan saya merangkum jawaban atas 15 poin tersebut ke dalam tiga fondasi sintesis. Kita tidak lagi berdebat untuk saling mematahkan, melainkan menjahit potongan-potongan argumen ini menjadi satu pakaian peradaban yang utuh.
1. Membedakan Kulliyyat (Paradigma Makro) dan Juz'iyyat (Indikator Operasional)
Kang Jajang secara konsisten menuntut adanya taqyīd al-ma‘nā (pembatasan makna), verifikasi faktual (al-taḥqīq), dan instrumen operasional agar gagasan ini tidak jatuh pada spekulasi konseptual (poin 1, 2, 3, 10, 11, 12, 14, 15).
Tuntutan ini 100% valid dan sangat esensial bagi tata kelola organisasi. Namun, kita harus mendudukkan pada tempatnya: esai opini pergerakan bertugas membangun Kulliyyat (grand paradigm, nilai-nilai universal, dan filosofi arah gerak). Sementara rumusan indikator, parameter kompetensi, dan evaluasi program adalah Juz'iyyat (hal-hal partikular/teknis operasional) yang ruang pembahasannya bukan di media massa, melainkan di atas meja Sidang Komisi Muktamar dan rapat-rapat kerja bidang.
Meminjam
Comments 0