Catatan atas Perdebatan Gagasan Pemuda Persis dalam Membaca Arah Muktamar XIV

Joeang Elkamali
Mar 26, 2026

Foto penunjang: Tradisi musyawarah dan diskusi ilmiah Pemuda Persia.

minimnya basis empiris eksplisit membuat gagasan tersebut rentan terhadap kritik epistemologis.

Sementara itu, terhadap A Jajang, kritik yang muncul adalah kecenderungan over-positivistik dalam membaca tulisan reflektif. Ketika seluruh realitas dipaksa untuk tunduk pada standar verifikasi yang ketat, ruang gerakan berisiko direduksi menjadi sekadar ruang akademik. Padahal, dalam tradisi Islam, pengetahuan tidak hanya bersumber dari rasio, tetapi juga dari pengalaman, intuisi, dan hikmah yang lahir dari keterlibatan praksis.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kedua pendekatan ini sama-sama penting, tetapi tidak cukup jika berdiri sendiri. Gerakan tidak hanya membutuhkan ketajaman refleksi, tetapi juga ketepatan analisis. Keduanya harus dipertemukan dalam satu kerangka yang lebih integratif.

Dalam konteks ini, Muktamar XIV Pemuda persis menjadi sangat penting untuk dibaca sebagai arena tarung gagasan. Muktamar menjadi forum tertinggi organisasi yang tidak hanya menentukan siapa yang memimpin, tetapi juga bagaimana gerakan akan diarahkan. Di sinilah berbagai gagasan diuji, bukan hanya dalam tataran wacana, tetapi dalam keputusan-keputusan yang konkret.

Lebih dari itu, muktamar seharusnya menjadi ruang pertarungan gagasan, bukan sekadar sirkulasi elite, menjadi tempat di mana cara berpikir dipertemukan, diperdebatkan, dan disintesiskan. Namun, dalam realitasnya, tidak jarang muktamar justru terjebak dalam kompromi politik yang pragmatis, sehingga dialektika intelektual menjadi minim.

Dalam situasi seperti ini, perdebatan antara A Andri dan A Jajang justru menjadi cermin yang jujur. Ia menunjukkan bahwa di dalam tubuh gerakan terdapat fragmentasi cara berpikir yang belum sepenuhnya disadari. Dan jika fragmentasi ini tidak dikelola, maka muktamar berpotensi kehilangan makna strategisnya.

Dari seluruh pembacaan tersebut, menjadi jelas bahwa yang dibutuhkan bukanlah kemenangan salah satu pendekatan, melainkan integrasi keduanya. Refleksi tanpa


1 2 3 4 5 6 7

Related Post

Post a Comment

Comments 0