Foto penunjang: Tradisi musyawarah dan diskusi ilmiah Pemuda Persia.
Jika kedua posisi ini dibaca secara lebih dalam, terlihat bahwa perbedaan yang terjadi dalam tubuh Pemuda persis bukan sekadar perbedaan pandangan, tetapi perbedaan cara memahami realitas gerakan jam’iyyah itu sendiri. Yang satu berbicara dari pengalaman Kader, sementara yang lain berbicara dari kerangka metodologis.
Dalam konteks ini, terdapat dua mode pengetahuan dalam tubuh Pemuda persis mode reflektif yang hidup dalam praksis Kader, dan mode verifikatif yang hidup dalam tradisi ilmiah jam’iyyah. Keduanya memiliki legitimasi dalam tradisi Persatuan Islam yang sejak awal mengintegrasikan ilmu dan amal. Mode pertama adalah reflektif, yang berusaha menangkap realitas melalui pengalaman dan keterlibatan langsung. Mode kedua adalah verifikatif, yang berusaha memastikan kebenaran melalui prosedur metodologis yang ketat. Keduanya memiliki logika dan legitimasi masing-masing.
Akibat dari perbedaan ini adalah terjadinya apa yang dapat disebut sebagai “missed dialogue” dalam tubuh Pemuda persis. Percakapan berjalan, tetapi tidak benar-benar bertemu. Masing-masing berbicara dalam bahasa yang berbeda, dengan asumsi yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, dialog menjadi sulit untuk mencapai titik temu yang produktif.
Dalam kerangka dialektis, kedua posisi tersebut perlu dibaca secara kritis. Terhadap A Andri, kritik yang paling mendasar adalah pada kecenderungan generalisasi dalam membangun tipologi Kader. Risiko reduksionisme sosial menjadi nyata ketika kompleksitas realitas dipadatkan ke dalam kategori-kategori yang belum sepenuhnya teruji. Selain itu,
Comments 0