Andri Nurkamal (tengah), Penulis.
2. Tamyiz (Diferensiasi) adalah Prasyarat bagi Takamul (Integrasi)
Pada poin 4, Kang Jajang mengingatkan bahwa Islam lebih menekankan takāmul al-adwār (kesalingmelengkapan peran) ketimbang tipologi abstrak yang berpotensi memecah belah identitas.
Ini adalah poin yang sangat indah. Namun, realitas sosiologis mengajarkan kita bahwa kita tidak akan pernah bisa mengintegrasikan sesuatu jika kita tidak terlebih dahulu mengenali perbedaannya. Proses kategorisasi (Ulama, Intelektual, Aktivis) adalah fase Tamyiz—kemampuan mengenali, membedakan karakter, mengidentifikasi ghirah, dan memetakan anatomi kekuatan kader secara objektif. Tanpa pisau bedah Tamyiz ini, Takāmul (integrasi) hanya akan menjadi pembauran yang semrawut. Sang Dirigen harus tahu mana kader yang berfungsi sebagai instrumen biola (pemikir/intelektual) dan mana yang berfungsi sebagai perkusi (aktivis lapangan), barulah ia bisa menciptakan harmoni yang utuh.
3. Ruh Qiyadah di Balik Berhala Al-Nizham
Titik perdebatan paling tajam di antara kita tampaknya terletak pada poin 7, 8, dan 9. Kang Jajang sangat menitikberatkan pada al-niẓām (sistem/institusi), sistem seleksi, dan mekanisme evaluasi, seraya memperingatkan bahaya ketergantungan pada figur (romantisme kepemimpinan).
Kita semua sepakat dengan atsar Sayyidina Ali bin Abi Thalib: Al-haqqu bila nizham yaghlibuhul bathil bi nizham (Kebenaran tanpa sistem akan dikalahkan kebatilan yang bersistem). Pemuda Persis mutlak butuh kelembagaan yang kuat. Akan tetapi, sejarah peradaban Islam juga bersaksi bahwa institusi tidak memimpin manusia; manusia memimpin institusi.
Sistem
Comments 0