Foto: ist.
Oleh Bagong Suyoto
Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) dan Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup dan Persampahan Indonesia (YPLHPI)
Tragis, urusan sampah tidak bisa dibilang sepele, mudah, apalagi lagi dimanipulasi. Laporan ke atasan selalu baik baik. Beres Pak! Patuh pada atasan janganlah berlebihan. Bisa jadi racun yang bisa mematikan. Fakta harus bicara, berpegang pada obyektivitas.
Tragedi gunung sampah longsor sudah menjadi “santapan”, langganan dan dianggap “lumrah”. Situasi tersebut sungguh ironis, boleh jadi karena kondisi terdesak dan opsi lain sulit dijalankan. Gunung-gunung sampah longsor mengindikasikan kondisi riel kedaruratan dan kegagalan.
Saya sudah memperingatkan akan terjadi Malapetaka Sampah sejak tahun 2003/2004-an. Hal ini berdasar hasil advokasi, riset dan sejumlah tulisan dan presentasi di sejumlah forum resmi. Saya mengungkapkan potensi besar Malapetaka Sampah akan terjadi akibat semakin buruknya pengelolaan sampah di Indonesia.
Kasus gunung sampah terbakar dan longsor terjadi di sejumlah tempat di republik ini. Salah satu yang jadi catatan sejarah adalah berulangnya gunung sampah di TPST Bantargebang. Kita masih ingat, Tragedi Jumat naas pada 2005, zona III TPST Bantargebang longsor memakan 3 korban nyawa. Zona III TPST beberapa kali longsor skala kecil dan tak terekspos media massa.
Hal ini juga terjadi di daerah lain, TPA Sumurbatu milik Kota Bekasi beberapa kali longsor, misal tahun 2016 memakan korban suami istri. Belakangan pada 10 Oktober 2025 TPA tersebut longsor menutup jalan operasional zona III dan IV. Pun TPA Burangkeng longsor berulangkali, TPA Cipeucang Tangsel longsor tumpah ke Kali Cisadane, dll. Tragedi gunung-gunung sampah longsor itu indikasi nyata Malapetaka Sampah.
Beberapa kali longsor
Pada 31 Desember
Comments 0