Foto: dok. Pertamina
KOSADATA - Di hamparan laut luas yang menjadi nadi distribusi energi nasional, ada cerita-cerita sunyi yang jarang terdengar. Bukan sekadar tentang kapal yang berlayar membawa muatan, tetapi tentang manusia di balik kemudi—termasuk perempuan-perempuan tangguh yang menembus batas ruang dan stigma.
Momentum Hari Kartini tahun ini dimaknai berbeda oleh PT Pertamina Patra Niaga. Perusahaan itu menyoroti kiprah pelaut perempuan yang selama ini menjadi bagian penting dari kelancaran distribusi energi, dari pelabuhan terpencil hingga jalur internasional yang penuh tantangan.
Peran pelaut memang tak tergantikan. Mereka memastikan energi tetap mengalir ke berbagai wilayah, termasuk daerah dengan akses logistik yang rumit. Di balik itu, ada dedikasi tinggi yang tak jarang menuntut pengorbanan besar—termasuk jauh dari keluarga dalam waktu lama.
Salah satu sosok yang menjalani kehidupan itu adalah Noor Faridah. Lebih dari satu dekade ia mengarungi lautan, kini menjabat sebagai Mualim II. Pengalamannya tak main-main—mulai dari mengoperasikan kapal crude hingga kapal gas, bahkan melintasi jalur strategis dunia seperti Selat Hormuz hingga perairan Irak.
Bagi Noor, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah.
“Setiap pelayaran membawa tanggung jawab besar, karena kami tahu energi yang kami bawa akan sampai ke masyarakat. Jauh dari keluarga menjadi bagian dari perjalanan ini, namun itu juga yang menguatkan saya untuk selalu menjalankan tugas dengan sebaik mungkin,” ujar Noor dalam keterangannya, Selasa, 21 April 2026.
Cerita serupa datang dari generasi yang lebih muda. Roro Anka Nurasti, yang kini menjabat sebagai 3rd Officer, memulai kariernya dari bawah sebagai Mualim IV. Perlahan, ia menapaki tangga profesional di dunia yang dikenal keras dan didominasi laki-laki.
Bagi Anka, menjadi pelaut perempuan
Comments 0