Malapetaka Gunung Sampah TPST Bantargebang Longsor

Restu Hanif
Mar 10, 2026

Foto: ist.

meteran, sehingga airnya menggenangi jalan dan pabrik biji plastik di sebelahnya. Sejumlah pohon tumbang dan turap kali hancur tertekan sampah. 

Orangtua, saudara dan teman-teman korban kelihatan sedih, dan sebagian meneteskan air mata menunggu evakuasi. Karena mulai sore (Minggu, 8/3/2026) hingga pagi dini hari (Senin, 9/3/2026) jasat sopir truk sampah belum ditemukan. Seperti nasib sopir truk sampah dari Kembangan Jakarta Barat, salah satu korban tragedi tersebut. Orang tuanya (lelaki) mukanya tampak pucat, sedih, lemas dan hanya diam menunggu di pinggir zona longsor itu. 

Karena 6 orang korban sudah ditemukan, 2 perempuan dan 4 lelaki sopir truk sampah.  Sedang 2 orang yang belum diketemukan itu juga sopir truk sampah, termasuk sopir dari Kembangan Jakbar itu.  

Luas TPST Bantargebang sekitar 120 hektar, dioperasikan sejak 1989. TPST milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, berada di wilayah administrasi Kota Bekasi. Lahan TPST meliputi wilayah Kelurahan Sumurbatu (paling luas), Ciketingudik dan Cikiwul Kecamatan Bantargebang. Sampah Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang sekitar 7.500-7.800 ton per hari. 

Mengapa gunung sampah di Bantargebang berulangkali longsor? Mungkin karena musim hujan. Sebelum terjadi longsor semalam turun hujan cukup lama. Mungkin, tumpukan sampah di zona IV itu sudah tinggi dan labil akibat penataan kurang baik. Mungkin juga, ada faktor lain semacam “penyakit kronis” sistemik yang perlu didalami.

Gunung-gunung sampah di TPST Bantargebang mencapai ketinggian 40-50 meter. Tentu, rawan longsor, apalagi dikelola secara open dumping. Jangan selalu menyalahkan hujan! Lalu, bagaimana dengan beberapa teknologi pengolahan sampah yang ada? Berapa besar kemampuan  teknologi-teknologi tersebut mengolah dan mereduksi sampah di TPST?  

Betapa sulitnya mengurus


1 2 3 4 5 6

Related Post

Post a Comment

Comments 0