Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) Prof. Iwa Garniwa. Foto: ist.
Di sisi lain, kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan potensi teknis PLTS di Jakarta masih sangat besar, terutama pada bangunan publik, komersial, dan permukiman. Namun, kontribusi PLTS terhadap bauran energi Jakarta diproyeksikan tetap rendah hingga 2050 tanpa kebijakan yang lebih progresif. Analis Sistem Ketenagalistrikan IESR Abraham Octama Halim mengatakan rendahnya pemanfaatan PLTS atap erat kaitannya dengan keterbatasan regulasi dan insentif.
IESR mencatat, sejumlah gedung di Jakarta memiliki potensi PLTS atap di atas 1 MWp, seperti Mall Kelapa Gading, Universitas Negeri Jakarta, dan Grand Indonesia. Rumah sakit besar seperti RSCM dan RSUP Fatmawati juga memiliki potensi serupa.
“Jakarta itu kaya atap, bukan kaya lahan. Maka perencanaan PLTS seharusnya jauh lebih ambisius,” tegas Abraham.
Untuk itu, IESR juga mendorong Pemprov DKI Jakarta segera memperbarui Rencana Umum Energi Daerah (RUED) serta merumuskan insentif fiskal dan nonfiskal, seperti keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), subsidi biaya awal pemasangan, dan kemudahan perizinan.***
Update terus berita terkini KOSADATA di Google News.
Comments 0