Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) Prof. Iwa Garniwa. Foto: ist.
KOSADATA - Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) Prof. Iwa Garniwa mendorong agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memasukkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap sebagai program strategis daerah.
Menurutnya, pengembangan PLTS atap manjadi langkah strategis dalam mengatasi tingginya ketergantungan Jakarta terhadap pasokan listrik dari luar wilayah, dan PLTS atap menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan energi tanpa membuka lahan baru di tengah wilayah perkotaan yang padat.
“Pengembangan PLTS atap merupakan solusi paling realistis bagi Jakarta saat ini. Potensi energi baru terbarukan Jakarta memang terbatas secara geografis, tetapi nilai strategisnya tinggi. PLTS atap bisa mendorong kemandirian energi di wilayah urban padat,” kata Iwa dalam keterangan tertulisnya yang diterima pada Senin, 16 Februari 2026 di Jakarta.
Iwa menerangkan, kondisi Jakarta dengan banyanya gedung perkantoran menjadi nilai tambah, karena pemanfaatan atap gedung perkantoran, fasilitas publik, dan kawasan permukiman memungkinkan Jakarta mengurangi ketergantungan pada pasokan listrik eksternal, sekaligus menekan emisi karbon perkotaan.
Namun untuk merealisasikan ide tersebut, Iwa menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta perlu menghadirkan kebijakan yang dapat memfasilitasi berbagai sektor untuk berkolaborasi demi memastikan transisi energi berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Pemerintah daerah harus mampu menjembatani kepentingan pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. Tanpa kolaborasi, program transisi energi sulit berkelanjutan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Iwa juga menyoroti sejumlah tantangan implementasi program energi di Jakarta, mulai dari regulasi lintas sektor, keterbatasan pendanaan, hingga kapasitas sumber daya manusia.
Ia menekankan bahwa harmonisasi kebijakan, inovasi pembiayaan, serta peningkatan kompetensi SDM di bidang energi terbarukan menjadi prasyarat keberhasilan transisi energi.
“Transisi energi di Jakarta bukan pilihan, tetapi keharusan. Tantangannya kompleks,
Comments 0