Foto: dok. UGM
KOSADATA - Suhu minus 50 derajat Celsius, angin kencang menusuk tulang, dan cahaya matahari yang tak menentu. Di tengah kerasnya Antarktika, Gerry Utama berdiri tegak membawa bendera Indonesia.
Pada usia 30 tahun, alumnus Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mencatatkan sejarah: menjadi insan Indonesia termuda yang menjelajahi Benua Putih.
Penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) resmi disematkan kepadanya di Jakarta. Bukan sekadar rekor, capaian ini menandai langkah penting bagi keterlibatan Indonesia dalam riset Antarktika.
Gerry ikut serta dalam Russian Antarctic Expedition (RAE) ke-69 yang digelar Arctic Antarctic Research Institute (AARI) Rusia, lembaga riset kutub berpusat di Saint Petersburg.
“Kesempatan ini sangat langka. Indonesia bahkan belum meratifikasi Traktat Antarktika, sehingga akses untuk ikut ekspedisi nyaris mustahil,” ujar Gerry seperti dilansir laman resmi UGM, Kamis, 2 Oktober 2025.
Putra Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, itu memang meniti jalan panjang. Setelah menempuh studi magister dan kini doktoral di Saint Petersburg State University, ia memperoleh peluang mengikuti ekspedisi.
Sejarah pun tercipta: Gerry menjadi orang pertama dari Indonesia, bahkan Asia, yang terlibat langsung dalam program riset kutub milik Pemerintah Rusia.
Perjalanan itu bukan tanpa risiko. Cuaca ekstrem membatasi ruang gerak. Ritme hidup pun berubah, mengikuti jadwal kapal riset Akademik Tyroshnikov dan operasional stasiun Mirny, pangkalan pertama Rusia di Antarktika.
“Momen mendarat di Stasiun Mirny tak akan terlupakan. Semua mobilisasi begitu disiplin, seolah-olah waktu diatur ulang,” kenangnya.
Di tengah kerasnya alam Antarktika, Gerry justru menemukan cerita tentang masa lampau. Ia bersama tim membuat peta geomorfologi Pulau King George, sekaligus menemukan fosil kayu berusia 130 juta tahun.
“Itu bukti bahwa
Comments 0