Fajar Shiddiq, Penulis, Ketua Bidang Kaderisasi PD. Pemuda Persis kab. Tasikmalaya.
Namun ilmu saja tidak cukup. Karakter kedua adalah kesalehan (takwa). Sejarah menunjukkan bahwa krisis kepemimpinan seringkali bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena rapuhnya integritas. Pemuda persis membutuhkan pemimpin yang tidak hanya benar dalam gagasan, tetapi juga lurus dalam sikap. Sosok yang menjaga lisannya, amanah dalam tindakan, dan bersih dari kepentingan sempit apalagi pragmatis. Tanpa kesalehan, ilmu bisa berubah menjadi alat pembenaran. Maka pemimpin ideal adalah mereka yang ilmunya menuntun dirinya untuk semakin tunduk kepada Allah, bukan justru menjauhkan. Meminjam perkataan Imam Ahmad, “Puncak ilmu itu adalah rasa takut kepada Allah.”
Karakter ketiga, yang sering luput diperhatikan, adalah pengaruh (_ta’tsir_) baik dengan perkataan atau perbuatan. Banyak orang berilmu dan sholeh, tetapi tidak mampu menggerakkan masa, bahkan sangat kaku. Pemuda persis adalah organisasi gerakan, bukan sekadar komunitas. Ia membutuhkan pemimpin yang mampu menghidupkan semangat, menggerakkan kader, dan menyatukan potensi. Pengaruh ini lahir dari dua hal: kekuatan komunikasi dan keteladanan nyata. Ucapan yang jernih akan membuka pikiran, dan perilaku yang istiqamah akan menembus hati. Di sinilah kepemimpinan menemukan maknanya: bukan hanya didengar, tetapi juga diikuti.
Menariknya, tidak semua orang yang berilmu dan sholeh otomatis memiliki pengaruh. Ada dimensi qubul (diterimanya seseorang di hati manusia) yang Allah anugerahkan
Comments 0