Foto: dok. InDrive
KOSADATA — Riuh kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti di Kota Bandung menjadi saksi bisu perjalanan Teh Mira. Di balik kemudi, perempuan itu menjemput harapan, satu perjalanan demi satu perjalanan, sembari menata kembali hidupnya yang sempat goyah.
Hari Kartini, yang setiap tahun diperingati sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia, terasa lebih dekat dalam kisahnya. Bukan sekadar seremoni, semangat itu menjelma nyata—hidup dalam keputusan-keputusan berani yang diambil perempuan seperti Mira, seorang ibu tunggal dengan tiga anak yang kini menjadi driver inDrive.
Tak banyak yang tahu, sebelum mengenal platform transportasi daring itu, kehidupan Mira berjalan terseok. Ia mengandalkan pekerjaan antar-jemput anak sekolah di sekitar rumahnya. Penghasilannya tak menentu, sering kali tak cukup untuk menutup kebutuhan dasar keluarga.
“Dulu penghasilan dari antar-jemput saja itu tidak cukup. Biaya sekolah anak kadang nunggak, cicilan motor juga sempat tertunda,” ujar Mira, mengingat masa-masa sulitnya, Selasa, 21 April 2026.
Tekanan ekonomi itu perlahan memaksanya mencari jalan lain. Pilihan itu datang ketika ia mengenal inDrive—platform mobilitas global yang membuka peluang baru. Dengan proses pendaftaran yang relatif mudah namun tetap selektif, Mira memberanikan diri melangkah ke dunia yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan: jalanan kota sebagai ruang kerja.
Sejak bergabung pada November 2024, hidupnya berubah pelan namun pasti. Penghasilan yang lebih stabil membuatnya bisa bernapas lega. Kebutuhan anak-anak terpenuhi, tunggakan cicilan terselesaikan, bahkan rencana untuk pindah ke tempat tinggal yang lebih layak mulai disusun.
“Alhamdulillah, sekarang kondisi ekonomi saya jauh lebih stabil. Tidak ada tunggakan lagi, kebutuhan anak juga tercukupi,” katanya, dengan nada yang lebih ringan.
Namun jalan yang ditempuh
Comments 0