Foto: dok. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta
KOSADATA - Suasana Sabtu malam di kawasan Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, terasa berbeda. Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, Gedung Kesenian Miss Tjitjih justru dipadati ratusan orang yang rela datang lebih awal. Mereka bukan antre konser musik modern, melainkan menyaksikan pertunjukan tradisional yang nyaris berusia satu abad.
Pementasan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 kembali digelar pada 18 April 2026 dengan lakon bertajuk “Kembang Turangga Jati”. Tiketnya gratis. Namun, siapa sangka, minat masyarakat justru membludak.
Dari 553 pendaftar, hanya 252 penonton yang berhasil masuk. Sisanya harus gigit jari.
Di dalam gedung, lampu meredup. Tirai terbuka. Cerita pun dimulai—tentang pusaka sakral bernama Karancang Bala, yang diyakini membawa kekuasaan dan kejayaan. Di balik kisah itu, terselip ambisi Raja Alas Bandawasa yang rela menempuh segala cara demi menguasai pusaka tersebut. Konflik, intrik, hingga perebutan kuasa mengalir di atas panggung, memikat penonton yang sebagian besar justru berasal dari generasi muda.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, melihat fenomena ini sebagai sinyal kuat bahwa kesenian tradisional belum kehilangan tempat di hati publik.
“Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang edukasi dan regenerasi budaya. Ini bagian dari upaya menjadikan Jakarta sebagai kota dengan identitas multikultural yang kuat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).
Ia mengingatkan, keberadaan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih bukanlah hal baru. Kesenian ini telah hidup sejak 1928, lahir dari perjalanan panjang masyarakat Sunda yang merantau ke Batavia pada masa kolonial. Mereka membawa bahasa, tradisi, dan kesenian yang kemudian berbaur dengan budaya Betawi.
Hasilnya adalah identitas budaya yang unik—Sunda yang tumbuh
Comments 0