Farid Abdul Hakim, penulis, sekaligus Ketua Departemen Sosial Rumah Aktivis Institute.
KOSADATA- Ramadhan tahun 2026 menjadi salah satu fase perjalanan hidup yang menghadirkan pengalaman spiritual yang sangat mendalam, sebuah perjalanan yang akan terus terukir dalam hati dan jiwa. Kesempatan menjalankan ibadah umrah di Masjidil Haram bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi perjalanan batin yang menguji kesabaran, kekuatan tubuh, sekaligus memperluas cara pandang tentang makna ibadah dalam kebersamaan umat Islam dunia.
Menjalankan shaum di Kota Mekkah ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Durasi puasa mencapai kurang lebih 13 jam dengan kondisi cuaca yang sangat ekstrem. Pada siang hari, suhu udara dapat mencapai 45 derajat Celsius. Teriknya matahari terasa menyengat bahkan sejak pagi, memantul dari lantai marmer pelataran masjid yang luas, membuat setiap langkah terasa berat, seperti membawa beban dosa-dosa yang ingin kita tinggalkan.
Namun ketika malam tiba, suhu justru turun drastis hingga sekitar 15 derajat Celsius. Perubahan suhu yang tajam ini menuntut tubuh untuk terus beradaptasi setiap harinya. Kelelahan fisik sebenarnya sangat terasa, tapi ada sesuatu yang membuat kita terus maju, ada api kecil yang terus menyala dalam hati, api cinta kepada Allah yang tidak pernah padam.
Akan tetapi, suasana spiritual yang tercipta justru menghadirkan energi yang sulit dijelaskan. Melihat jutaan jamaah dari berbagai Negara Afrika, Asia, Eropa, hingga Amerika datang dengan tujuan yang sama, menumbuhkan semangat yang menular. Tidak ada yang ingin tertinggal dalam kebaikan. Ketika melihat seorang lansia tetap berjalan perlahan menuju masjid, atau jamaah yang datang dengan kursi roda tetap berusaha hadir di setiap waktu shalat, rasa lelah seakan berubah menjadi motivasi.
Tahun 2026 bahkan tercatat sebagai salah satu musim umrah
Comments 0