Foto: ist
"PAM Jaya tidak mengambil air tanah, hanya mengolah air permukaan. Kami bekerja siang malam untuk mengakhiri ketergantungan warga pada air galon dan gerobak. Target 2029 harus tercapai," tandasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Firdaus Ali menegaskan bahwa transformasi tata kelola air di ibu kota sudah mendesak dan tidak bisa ditunda.
"Air adalah sumber kehidupan. Hampir semua kitab suci menyebut air sebagai lambang surga. Namun ironinya, Jakarta dengan 13 sungai dan 76 anak sungai, tak satu pun yang layak jadi air baku. Semua tercemar limbah," kata Firdaus.
Dia juga menyoroti rendahnya cakupan layanan air perpipaan di Jakarta. Secara nasional cakupan air perpipaan baru 20 persen, sedangkan Jakarta sendiri masih di bawah 50 persen.
"Pipanya ada, tapi airnya sering tidak mengalir," ujarnya.
Firdaus juga mengingatkan tingginya tingkat kehilangan air atau non revenue water (NRW) di Jakarta, yang mencapai 45-47 persen. Angka itu disebutnya sebagai salah satu yang terburuk di dunia bagi kota dengan populasi di atas lima juta jiwa.
"Tantangan PAM Jaya tidak ringan, memperluas layanan sekaligus menekan kebocoran masif ini," ungkapnya.
Selain itu, Jakarta bergantung besar pada pasokan dari luar. Lebih dari 80 persen air bersih ibukota disuplai dari Waduk Jatiluhur melalui Kanal Tarum Barat (Kali Malang).
"Kalau ada gangguan di Kali Malang, maka suplai 81 persen air Jakarta berhenti total. Itu jelas berbahaya bagi keamanan layanan air ibu
Comments 0