Foto: dok. Setkab RI
Untuk ibu-ibu seperti Rohmah, air bukan hanya kebutuhan dasar—melainkan kepastian bahwa hidup esok hari masih layak diperjuangkan.
Gerak Cepat Pemerintah
Sejak banjir dan longsor melumpuhkan Sumatra, pemerintah bergerak dengan pola operasi darurat: pusat, daerah, TNI/Polri, hingga relawan sipil menyatu dalam komando. Instruksinya bukan hanya menurunkan logistik—tetapi membuka akses transportasi, menata ulang permukiman, dan mempercepat penyediaan hunian sementara.
Kementerian Pekerjaan Umum bahkan mengerahkan lebih dari 500 alat berat, toilet portabel, hidran air, hingga perangkat pembersih khusus di Aceh. Bantuan disebar ke delapan kabupaten/kota: Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Kota Langsa, dan Aceh Timur.
Di tengah lumpur dan air yang tak kunjung surut, data-data itu memberi gambaran kerja struktural. Tapi di lapangan, pemandangan paling membekas justru tawa anak-anak yang memeluk mainan baru—dan antrean ibu-ibu yang menyorongkan jeriken kosong.
banjir mungkin belum pergi. Namun di Aceh Tamiang, hari ini, air bersih kembali mengalir. Dan harapan mulai punya wadah.***
Berita terkini lainnya bisa diikuti melalui kanal Google News KOSADATA.
Comments 0