Pelaku seni rebana biang di Sanggar Pusaka Ciganjur. Foto: dok Sanggar Pusaka
KOSADATA - Soal warisan budaya dan kesenian masyarakat Betawi boleh dibilang merupakan masyarakat yang kaya akan hal itu. Sejak jaman dahulu, memang banyak kesenian yang lahir dan terus mengakar sampai saat ini.
Salah satunya ialah kesenian rebana biang, Sudah sangat jarang kesenian ini ditemui, padahal kehadiran rebana biang dahulu sering dihadirkan di setiap kesempatan. Baik itu peresmian, palang pintu, sampai pesta penyambutan tamu.
Ciganjur Jakarta Selatan, adalah wilayah yang kini masih terus berupaya mempertahankan seni rebana biang.
Menurut Seniman rebana biang Generasi Ke-empat dari Sanggar Pusaka Ciganjur M. Nasir menilik sejarahnya, rebana biang diperkenalkan oleh ulama asal Banten bernama Kompi Zaenal atau yang dikenal sebagai Bapak Tua Kumis sekitar 1825 ke Ciganjur.
Sementara orang yang menerima dan mempelajari kesenian ini pertama kali adalah adalah Haji Damong dan rekan-rekan. Haji Damong mengembangkan kesenian ini sehingga banyak masyarakat Ciganjur dan luar Ciganjur juga ikut berkecimpung.
Nasir bercerita, sebelum tahun 1975 rebana biang juga sempat kehilangan pamor karena termakan zaman kala itu. “Akan tetapi di tahun 1975 sampai 1976 itu pua pada saat ini Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin punya program mengumpulkan seniman tradisi salah satunya ya Kesenian rebana biang ini,”ujarnya.
Dahulu banyak sanggar kesenian di seluruh penjuru Jakarta dan Depok memainkan rebana biang Khas Ciganjur. Akan tetapi kata Nasir kini hanya tinggal beberapa saja yang bertahan. “Dulu itu kompetisi rebana biang sangat banyak kini jarang karena tidak banyak sanggar yang main lagi,” katanya.
rebana biang sarat akan kebudayaan Arab, lagu-lagu yang dimainkan biasanya bernafaskan Islam dan
Comments 0