Kaleidoskop Energi 2025 PYC: Menakar Ketahanan dan Arah Transisi Energi Indonesia 2026

Abdillah Balfast
Jan 14, 2026

Forum Outlook Energi Nasional 2026 yang digelar PYC. (Foto: Hadits Abdillah)

kebijakan yang lebih terintegrasi.

“Tantangan utama ke depan bukan lagi pada ketersediaan regulasi, melainkan pada kualitas implementasi, koherensi kebijakan lintas sektor, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Filda.

Dalam paparan Outlook Energi Indonesia, DEN menyoroti bahwa efisiensi energi menjadi kunci utama transisi energi nasional. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) masih mendominasi sekitar 40 persen dari total energi final, terutama di sektor transportasi. Melalui skenario GREEN, penguatan konservasi dan efisiensi energi di sektor industri dan transportasi diproyeksikan mampu menurunkan konsumsi energi final hingga 15 persen pada 2035, serta menekan konsumsi BBM hingga 24 persen melalui pemanfaatan biodiesel B40, kendaraan listrik, dan hidrogen.

Anggota DEN Yunus Saefulhak menegaskan bahwa efisiensi energi merupakan first fuel dalam transisi energi nasional. “Efisiensi energi memberikan dampak yang cepat, biaya lebih efisien, serta secara langsung memperkuat ketahanan energi nasional,” katanya.

Di sisi lain, kebijakan hilirisasi mineral turut mendorong peningkatan konsumsi listrik sektor industri, khususnya di wilayah Sulawesi dan Maluku. Sejalan dengan itu, kapasitas pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) diproyeksikan mencapai 62 GW pada 2035, dengan tenaga air dan surya sebagai tulang punggung, serta mulai beroperasinya PLTN berkapasitas 250 MW pada 2032.

Diskusi semakin kaya dengan pandangan dari perwakilan Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Luar Negeri, dan Pertamina Energy Institute, yang menyoroti keterkaitan erat antara kebijakan energi, pembangunan nasional, diplomasi energi, serta transformasi sektor energi.

Perwakilan DEN lainnya, Tubagus Nugraha, menekankan bahwa transisi energi harus dipahami sebagai transformasi sistemik, bukan sekadar pergantian sumber energi. “Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan untuk mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. Karena


1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0