Foto: dok. ITPLN
KOSADATA – Institut Teknologi PLN (ITPLN) menegaskan kesiapannya menjadi garda depan penyediaan sumber daya manusia untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia. Komitmen itu disampaikan dalam forum internasional Asia Nuclear Business Platform (ANBP) 2025 yang digelar di Jakarta.
Ketua Global Institute for Nuclear Energy and Sustainable Development (GINEST) ITPLN, Agus Puji Prasetyono, menyebut integrasi tenaga nuklir menjadi kebutuhan strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Menurut dia, nuklir diperlukan untuk menopang bauran energi rendah emisi serta pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“RUPTL 2025–2034 menargetkan pembangunan PLTN pertama Indonesia berkapasitas 500 MW pada 2032 dan 2033,” ujar Agus yang juga menjadi Co-Host ANBP 2025 dalam keterangannya, Kamis, 11 Desember 2025.
Agus menambahkan Indonesia tengah membangun ekosistem komprehensif untuk program nuklir yang bertanggung jawab. Upaya itu meliputi penguatan regulasi dan kerangka kerja, penyelarasan kelembagaan antara pemerintah, utilitas, dan lembaga riset, hingga rencana pembentukan National Nuclear Energy Program Implementing Organization (NEPIO).
Yang tidak kalah penting, ujar Agus, adalah pembangunan kepercayaan publik secara berkelanjutan. Ia menekankan perlunya edukasi masyarakat, transparansi, keterlibatan generasi muda, serta penguatan stabilitas jangka panjang melalui kerangka pembiayaan, manajemen risiko, dan kolaborasi sektor publik–swasta.
Wakil Rektor I ITPLN, Prof. Syamsir Abduh, yang turut hadir bersama jajaran GINEST dan mahasiswa ITPLN, menilai pelibatan mahasiswa dalam forum global ini menjadi bukti keseriusan kampus dalam agenda transisi energi. “ANBP 2025 menjadi momen pertukaran pengetahuan dan landasan percepatan kerja sama regional serta global untuk masa depan energi yang aman, bersih, dan berkelanjutan,” kata Syamsir.
Comments 0