Birokrasi Lebih Patuh dan Empatik Saat Dipimpin Perempuan, Benarkah?

Fahmi Wahyudi
Oct 20, 2025

Foto: ist

KOSADATA — Perempuan dalam birokrasi bukan sekadar pelengkap. Mereka hadir sebagai penentu arah, penggerak nilai, dan penyeimbang dalam pengambilan keputusan. 

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini menyebut kepemimpinan perempuan terbukti mendorong birokrasi yang lebih taat aturan, kolaboratif, dan manusiawi. Hal ini dia sampaikan saat menjadi pembicara pada Sekolah Kepemimpinan Kartini (Kalis) di Sekolah Garuda Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Bogor.

“Pemimpin perempuan memiliki kecenderungan untuk menciptakan safe space yang mendorong keterbukaan, empati, dan penyelesaian konflik secara konstruktif,” ujar Rini seperti dilansir laman resmi PANRB, Senin, 20 Oktober 2025.

Menurut Rini, berbagai penelitian menunjukkan kepemimpinan perempuan kerap melahirkan kebijakan yang berpihak pada keseimbangan hidup dan kerja (work–life balance). Contohnya, penerapan flexible work, cuti ayah pascake lahiran, hingga penyediaan fasilitas pendukung seperti ruang laktasi dan daycare.

Namun, kata Rini, membuka ruang bagi perempuan untuk memimpin birokrasi membutuhkan langkah nyata. Ia menegaskan ada empat pendekatan utama: kebijakan yang berpihak, transformasi budaya organisasi, keteladanan kepemimpinan, serta dukungan sesama perempuan.

“Women support women, karena perubahan besar tidak mungkin lahir dari perjuangan yang sendiri,” tuturnya.

Rini mencatat sinyal positif menuju kesetaraan gender terus menguat. Indeks Ketimpangan Gender menurun dari tahun ke tahun, menandakan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan kian mengecil. “Perbaikan ini ditopang oleh meningkatnya partisipasi kerja, pendidikan, dan keterwakilan perempuan,” katanya.

Data terbaru Kementerian PANRB menunjukkan dari total lebih dari 5,2 juta Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia, sekitar 57 persen atau hampir 3 juta di antaranya adalah perempuan. Namun, representasi di posisi strategis masih timpang: hanya 17 persen perempuan yang menduduki jabatan pimpinan tinggi.

“Jumlahnya


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0