Foto: ist
Ashar juga menyoroti kemampuan material atap dalam merespons panas. Genteng yang memiliki massa lebih besar cenderung mampu meredam panas sehingga suhu di dalam bangunan lebih sejuk. Namun, kondisi tersebut tidak selalu ideal di semua wilayah.
“Di daerah pegunungan yang dingin, justru dibutuhkan rumah yang bisa memanen panas matahari agar bagian dalamnya hangat. Di situ, penggunaan seng bisa lebih sesuai,” katanya.
Di luar aspek teknis, Ashar menegaskan pentingnya mempertimbangkan faktor sosial budaya. Indonesia, menurut dia, memiliki keragaman suku, adat, dan kepercayaan yang memengaruhi pilihan material bangunan.
Ia mencontohkan, di beberapa wilayah masih terdapat kepercayaan bahwa orang yang masih hidup tidak boleh tinggal di bawah material yang berasal dari tanah. Kepercayaan tersebut membuat masyarakat menghindari penggunaan genteng tanah liat.
“Itu bukan soal teknis atau estetika, tetapi soal keyakinan. Hal seperti ini tidak bisa diabaikan atau diseragamkan,” katanya.
Desain rumah adat juga menjadi perhatian. Ashar menyebut sejumlah rumah tradisional seperti Rumah Gadang di Sumatra Barat, Tongkonan di Toraja, serta rumah adat di Nias dan Papua memiliki karakteristik atap yang sejak awal dirancang untuk material lentur seperti ijuk atau sirap.
“Jika dipaksakan menggunakan genteng yang berat dan kaku, itu bisa menghilangkan karakter asli bangunan tradisional,” tegasnya.
Aspek ketiga yang dinilai tak kalah penting adalah keberlanjutan. Dalam perspektif ilmu material bangunan, pemilihan material seharusnya mempertimbangkan energi dan emisi sejak proses produksi hingga penggunaannya.
“Harus dihitung berapa energi yang dibutuhkan dan emisi yang dihasilkan. Belum tentu genteng selalu lebih hemat energi dibandingkan seng, atau sebaliknya,”
Comments 0