Senior Business Consultant Impactto Arya Prihutama saat menjelaskan sektor bisnis yang dapat dimanfaatkan pada masa transisi energi. Foto: ITS
KOSADATA — Transisi dari bahan bakar fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT) tak sekadar soal lingkungan. Pergeseran ini juga membuka peluang bisnis baru yang potensial.
Menyikapi hal tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar Logistic and Supply Chain Camp (LSCAMP) 2025 untuk membedah prospek transisi energi di Indonesia.
Kegiatan yang digagas oleh Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS ini berlangsung di Gedung Pusat Riset ITS, Surabaya. Mengangkat tema Energy Transition: Generating New Energy, Nurturing New Business, seminar publik tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah hingga pelaku industri.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Harris, dalam paparannya menyoroti fakta bahwa potensi EBT di Indonesia masih jauh dari maksimal.
Saat ini, hanya 14 persen pasokan listrik nasional berasal dari EBT. Padahal, menurutnya, sumber daya EBT Indonesia mampu menghasilkan daya listrik lebih besar ketimbang energi fosil.
“Inilah potensi besar yang bisa mendorong Indonesia menuju net zero emission,” ujar Harris dilansir dari laman resmi ITS, Senin, 26 Mei 2025.
Pemerintah, lanjut Harris, telah menyiapkan sejumlah kebijakan strategis. Salah satunya adalah penghentian perpanjangan kontrak baru bagi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat peralihan ke EBT secara bertahap.
Namun, upaya ini tidak tanpa hambatan. Keterbatasan anggaran negara menjadi tantangan utama mengingat investasi pengembangan EBT membutuhkan biaya besar.
Sebagai solusi, pemerintah meluncurkan skema pembiayaan kemitraan internasional bernama Just Energy Transition Partnership (JETP). “Transisi energi itu tidak pendek waktunya dan tidak murah biayanya,” kata Harris.
Comments 0