Foto: ist
Akibatnya, proses evaporasi dan transpirasi meningkat, yang mempercepat pembentukan awan. Saat jumlah awan meningkat, potensi curah hujan tinggi juga ikut naik, sehingga memicu genangan hingga banjir.
Namun, pada musim kemarau, fenomena monsun Australia justru menghambat pembentukan awan di Indonesia. Hal ini menyebabkan curah hujan berkurang dan memperpanjang periode kekeringan.
Menghadapi kondisi tersebut, Emilya mendorong langkah mitigasi, salah satunya melalui penerapan rainwater harvesting atau penampungan air hujan dari atap rumah.
Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan air secara bijak sesuai kebutuhan. “Air harus digunakan sesuai fungsinya. Air tanah untuk kebutuhan domestik, sementara kebutuhan lain bisa memanfaatkan sumber air permukaan,” ujarnya.
Menurut Emilya, seluruh sumber air pada akhirnya bergantung pada air hujan, sehingga pengelolaan yang tepat menjadi kunci menghadapi perubahan iklim yang kian nyata.***
Berita terkini lainnya bisa diikuti melalui kanal Google News KOSADATA.
Comments 0