Bumi Makin Panas, Pakar UGM: Siklon hingga Krisis Pangan Mengintai

Fahmi Wahyudi
Mar 28, 2026

Foto: ist

KOSADATA  — Peningkatan suhu Bumi bukan sekadar isu global yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dalam satu dekade terakhir, dampaknya kian nyata: dari mencairnya es di Kutub Utara hingga ancaman krisis pangan di wilayah tropis seperti Indonesia.

Pakar klimatologi dari Fakultas Geografi UGM, Dr. Emilya Nurjani, mengingatkan bahwa kenaikan suhu global telah mempercepat pencairan es di wilayah kutub. Dampaknya, volume air laut meningkat dan berpotensi menurunkan ketinggian wilayah dataran rendah.

“Selama 10 tahun terakhir, laju pemanasan global meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan era 1970-an. Saat ini suhu Bumi sudah naik sekitar 0,35 derajat Celsius,” ujar Emilya seperti dilansir laman resmi UGM, Sabtu, 28 Maret 2026.

Kenaikan suhu tersebut, kata dia, berimbas langsung pada meningkatnya intensitas cuaca ekstrem. Suhu yang lebih tinggi memicu penguapan lebih besar, yang kemudian meningkatkan potensi hujan dengan intensitas tinggi.

Tak hanya itu, peningkatan suhu permukaan laut juga memperbesar peluang terbentuknya siklon tropis. “Kalau siklon makin sering terjadi, dampaknya bisa berupa banjir, angin kencang, hingga berbagai perubahan ekstrem lainnya,” jelasnya.

Emilya menambahkan, suhu tinggi juga berkontribusi pada meningkatnya risiko bencana lain seperti kekeringan dan angin kencang. Dampak angin kencang ini, menurutnya, kerap menimbulkan kerusakan fisik seperti pohon tumbang hingga atap rumah rusak.

Lebih jauh, perubahan iklim ini turut mengancam sektor pertanian. Musim kemarau yang datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang membuat petani kesulitan menentukan pola tanam, khususnya pada musim tanam ketiga.

“Kalau kemarau panjang, petani akan kesulitan menanam padi. Ini jelas berdampak pada produksi pangan,” ujarnya.

Emilya menjelaskan, peningkatan suhu Bumi dipicu oleh pemanasan global akibat aktivitas manusia,


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0