Transformasi Peran Guru: Setiap Pendidik Harus Jadi Guru BK, Ini Alasannya!

Ida Farida
Jul 14, 2025

Foto: ist

KOSADATA — Di kelas, seorang guru matematika tidak hanya menuliskan rumus di papan tulis. Ia dituntut peka membaca ekspresi siswa yang pendiam, yang ternyata mampu bersinar ketika diminta menjelaskan strategi soal kepada teman-temannya. 

 

Di lapangan olahraga, peluit bukan sekadar alat memulai pertandingan. Seorang guru olahraga harus mampu mengubah tangisan akibat kekalahan menjadi pelajaran berharga tentang sportivitas dan keberanian bangkit dari kegagalan.

 

Momen-momen kecil ini memperlihatkan betapa setiap guru, apapun mata pelajaran yang diampunya, memiliki peran penting sebagai guru bimbingan konseling (BK). Mereka menjadi pendengar pertama, pembaca isyarat emosi, sekaligus penuntun awal dalam perjalanan karakter anak.

 

Guru Besar di bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Maila Dinia Husni Rahiem menegaskan, transformasi peran guru ini mutlak dilakukan di tengah keterbatasan jumlah guru BK di sekolah.

 

"Idealnya, satu guru BK mendampingi 150 siswa sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021. Namun faktanya, di lapangan ada guru BK yang harus menangani 500 hingga 1.500 siswa. Bahkan di SD, posisi khusus guru BK nyaris tidak ada," ujar Maila dilansir laman resmi UIN Jakarta, Senin, 14 Juli 2025.

 

Menurutnya, minimnya jumlah guru BK diperparah oleh stigma negatif yang terlanjur melekat. Ruang BK masih dianggap sebagai “kantor polisi sekolah” bagi siswa bermasalah. Padahal, hakikat layanan BK adalah pendampingan perkembangan emosional dan sosial siswa, bukan ruang hukuman.

 

Belajar dari Negara Lain

 

Beberapa negara telah membuktikan pentingnya layanan BK yang kuat di sekolah. Di Amerika Serikat, sekolah menerapkan Model ASCA (American School Counselor Association), di mana konselor


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0