Foto: dok. BRIN
KOSADATA — Angka konsumsi ikan masyarakat Indonesia terus menunjukkan tren kenaikan signifikan dalam satu dekade terakhir. Periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Diana, mengungkapkan konsumsi ikan nasional meningkat dari 30,48 kilogram per kapita pada 2010 menjadi 58 kilogram per kapita pada 2024.
Peningkatan ini disampaikan Diana saat menjadi pemateri dalam workshop Teknologi Hilirisasi Perikanan yang digelar di Kabupaten Majalengka. Kegiatan tersebut diikuti pelaku usaha yang tergabung dalam inkubator bisnis Yayasan Inotek.
“Data KKP periode 2020–2025 menunjukkan produksi kelautan dan perikanan Indonesia tumbuh rata-rata 3,8% per tahun, dengan produksi budidaya ikan mencapai 5,84 juta ton,” ujar Diana seperti dilansir laman resmi BRIN, Selasa, 21 April 2026.
Ia menambahkan, wilayah dengan konsumsi ikan tertinggi adalah Maluku, yakni mencapai 79,49 kilogram per kapita.
Dalam paparannya, Diana menjelaskan pentingnya pemahaman gizi ikan air tawar serta diversifikasi produk olahannya. Menurut dia, komposisi ikan meliputi air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, hingga pigmen yang memiliki nilai gizi tinggi.
Selain itu, peserta workshop juga diperkenalkan pada berbagai produk olahan seperti abon ikan, nugget ikan, hingga tepung tulang ikan. Produk-produk tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikomersialisasikan.
“Harapannya bisa melahirkan startup baru dan UMKM yang mengembangkan produk olahan perikanan,” ucapnya.
Diana menekankan bahwa pengolahan ikan tidak hanya terbatas pada daging utama. Bagian lain seperti kulit, sisik, tulang, kepala, hingga gelembung renang juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bernilai tambah.
Tak hanya soal produk, aspek pengemasan turut menjadi sorotan. Menurut Diana, kemasan berperan penting dalam menjaga kualitas, memperpanjang umur simpan, sekaligus meningkatkan daya tarik
Comments 0