Mahasiswa Universitas Islam KH Ruhiat Cipasung (UNIK Cipasung) foto bersama dengan peserta didik SLB ABC Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. IST
KOSADATA - Kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Islam KH Ruhiat Cipasung (Unik cipasung) mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi pendidikan di SLB ABC Ciawi Kabupaten Tasikmalaya.
Selama menjalankan program pengabdian, mereka menemukan fakta pahit mengenai minimnya perhatian pemerintah terhadap nasib guru dan fasilitas bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah tersebut.
"Hati kami perih melihat perjuangan guru di sekolah ini," ujar Saeful Ulum, koordinator Desa KKN Unik cipasung.
Para guru, sambung Saeful, harus berjibaku dengan fasilitas yang jauh dari standar. Selain itu, beban kerja guru dinilai sudah di luar batas kewajaran. Mereka harus menjadi pendidik, terapis, sekaligus pengasuh dalam satu waktu tanpa dukungan sarana yang memadai.
"Kami merasa sangat prihatin. Di saat pemerintah bicara soal pendidikan inklusif di kota-kota besar, di sini para guru berjuang sendirian dengan alat peraga seadanya. Hati kami perih melihat dedikasi luar biasa para guru yang tidak sebanding dengan perhatian dan tunjangan yang mereka terima dari pemerintah," papar Solahudin, perwakilan dari KKN Unik cipasung.
Mahasiswa melaporkan, para peserta didik di SLB ABC Ciawi dipaksa belajar dalam keterbatasan. Ketiadaan alat bantu dengar yang modern, ruang terapi jauh dari layak, dan aksesibilitas bangunan yang minim merupakan bukti nyata abainya pemerintah terhadap penyandang disabilitas di pelosok Tasikmalaya.
"Anak-anak ini punya potensi besar, tapi mereka terhambat oleh tembok kemiskinan fasilitas. Sangat miris harus melihat mereka belajar dengan sarana seadanya. Ke mana anggaran untuk mereka?" tandas Solahudin. ***
Comments 0