Gubernur Pramono (tengah) dan Ketua DPRD DKI, Khairudin (dua dari kanan) buka bersama dengan Majelis Kaum Betawi yang dinakhodai Foke (kiri). Foto: ist
Tak ketinggalan, ia menyampaikan komitmen untuk melanjutkan program Kartu Jakarta Pintar (KJP) serta mempercepat pengoperasian Tempat Pengolahan Sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan. Meski begitu, ia mengakui masih ada tantangan, terutama terkait bau tak sedap dari TPS yang mengganggu warga sekitar.
“Kita sedang evaluasi, agar proses pengolahan sampah maksimal dua hari. Jangan sampai menumpuk seminggu hingga menimbulkan pembusukan,” jelasnya.
Hampir seluruh elemen masyarakat Betawi tampak hadir malam itu. Dari Bamus Betawi, Bamus Suku Betawi 1982, Forum Betawi Rempug (FBR), FORKABI, hingga Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan sejumlah ormas lainnya. Sejumlah nama besar, seperti KH. Maulana Kamal Yusuf, Prof. Dailami Firdaus, Beky Mardani, hingga para habaib dan kyai Betawi turut meramaikan suasana.
Sore berubah menjadi malam. Di tengah lantunan doa dan obrolan hangat, silaturahmi ini tak sekadar menjadi acara seremonial. Ia menjelma menjadi simbol harmoni, menyulam benang-benang perbedaan, dan menguatkan kembali akar kebersamaan masyarakat Betawi di Jakarta.***
Comments 0