Menemukan Ketenangan di Tengah Kebaikan: Refleksi Ramadhan di Masjidil Haram

Joeang Elkamali
Mar 04, 2026

Farid Abdul Hakim, penulis, sekaligus Ketua Departemen Sosial Rumah Aktivis Institute.

secara sukarela turut berbagi makanan tambahan. Di sepanjang saf, terlihat orang-orang membagikan roti canai, nasi kebuli, buah-buahan, kopi Arab, teh hangat, bahkan makanan khas dari Negara masing-masing. Orang yang sebelumnya tidak saling mengenal duduk berdampingan, saling menawarkan makanan dengan senyum dan sapaan sederhana.

Begitu adzan Maghrib berkumandang, jutaan orang berbuka secara bersamaan. Suasana hening sejenak, lalu berubah menjadi rasa syukur kolektif. Setelah itu jamaah segera bersiap melaksanakan shalat Maghrib, dilanjutkan Isya dan shalat Tarawih berjamaah dengan durasi yang panjang.

Ramadhan di Mekkah mengajarkan bahwa kekuatan iman sering kali lahir dari kebersamaan. Ketika jutaan manusia bergerak menuju satu arah yang sama, menghadap satu kiblat yang sama, kelelahan berubah menjadi kenikmatan. Di hadapan Ka’bah, manusia menyadari betapa kecilnya diri di tengah luasnya dunia dan betapa besar kasih sayang Allah yang mempertemukan begitu banyak hati dalam satu waktu yang mulia, melampaui batas warna, ras, bahasa, dan budaya. Kita sama, sekedar manusia biasa, hamba dari Allah S.W.T. semata-mata.

(Ditulis oleh Farid Abdul Hakim, Ketua Departemen Sosial Rumah Aktivis Institute).


1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0