Farid Abdul Hakim, penulis, sekaligus Ketua Departemen Sosial Rumah Aktivis Institute.
Untuk dapat melaksanakan shalat Subuh di dalam Masjidil Haram, jamaah harus sudah bersiap dan berangkat sekitar pukul 02.00 dini hari. Jika datang lebih lambat, besar kemungkinan hanya mendapatkan tempat jauh di pelataran luar atau bahkan di ruas jalan sekitar masjid. Demi merasakan shalat berjamaah lebih dekat dengan Ka’bah, ribuan orang rela menunggu berjam-jam sejak malam.
Menariknya, di tengah kekhusyukan Ramadhan tersebut, kawasan Timur Tengah sedang berada dalam situasi Geopolitik yang cukup hangat. Namun suasana itu nyaris tidak terasa di Tanah Suci, seolah kita berada di zona yang berbeda, zona kedamaian dan Ketenangan.
Aktivitas ibadah berjalan dengan sangat tertib dan aman. Pemerintah Arab Saudi menjaga stabilitas dan keamanan sehingga jamaah tetap dapat menjalankan ibadah dengan tenang. Di dalam Masjidil Haram, perhatian manusia seakan terlepas dari hiruk pikuk politik dunia. Tidak ada perbedaan bangsa, tidak ada diskusi konflik yang ada hanyalah doa-doa yang dipanjatkan dalam berbagai bahasa, tangisan harapan, serta kerinduan setiap hamba kepada Tuhannya.
Salah satu momen paling berkesan adalah suasana berbuka puasa di Masjidil Haram. Ketika waktu Maghrib semakin dekat, relawan dan petugas mulai membagikan paket takjil yang disediakan pemerintah Arab Saudi kepada setiap jamaah. Paket tersebut berisi kurma, air zamzam, roti, yoghurt, kacang almond, kismis, serta berbagai kue sederhana.
Keindahan Ramadhan semakin terasa karena banyak jamaah
Comments 0