Ekonom UGM Bongkar Penyebab Dompet Jebol dan Cara Menyelamatkan Keuangan

Fahmi Wahyudi
Apr 08, 2026

Foto: Pixabay/stevepb

KOSADATA - Pasca-Lebaran, pola konsumsi masyarakat cenderung meningkat tajam. Tradisi tahunan seperti mudik, belanja kebutuhan hari raya, hingga pemberian parsel membuat pengeluaran melonjak signifikan. Bahkan, kebiasaan belanja tersebut kerap berlanjut setelah momen hari raya usai.

Kondisi ini dinilai perlu diwaspadai. Masyarakat diminta tetap mengendalikan pengeluaran meski euforia Lebaran masih terasa.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Dr. Eddy Junarsin, mengatakan lonjakan konsumsi dipicu suasana psikologis yang masih terbawa suasana perayaan. Menurutnya, individu cenderung mempertahankan pola belanja dalam situasi penuh kegembiraan.

“Sehingga pengeluaran secara tidak tersadari mungkin akan di atas normal,” ujar Eddy seperti dilansir laman resmi UGM, Rabu, 7 April 2026.

Eddy menekankan pentingnya kesadaran individu untuk segera “bangun” dari euforia tersebut. Ia menyebut perlunya semacam alarm pribadi sebagai penanda bahwa masa perayaan telah berakhir, sehingga pengelolaan keuangan bisa kembali dilakukan secara disiplin.

Dalam pengaturan keuangan, Eddy merujuk sejumlah riset yang menyebutkan rasio ideal tabungan atau investasi berada di kisaran 10–20 persen dari pendapatan bersih atau take-home pay. Sementara itu, rasio cicilan utang (debt service ratio), di luar kredit pemilikan rumah (KPR), disarankan tidak melebihi 35 persen dari pendapatan.

“Debt service ratio adalah rasio pembayaran cicilan terhadap take-home pay,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong masyarakat, khususnya mahasiswa, mulai memahami investasi sejak dini. Hal ini dapat dilakukan melalui pembelajaran manajemen keuangan, teori portofolio, serta memanfaatkan berbagai platform investasi yang tersedia.

Eddy juga menekankan pentingnya asuransi sebagai bagian dari perlindungan finansial. Menurutnya, asuransi kesehatan, kendaraan, dan lainnya berfungsi sebagai mekanisme berbagi risiko (risk sharing).

“Jika ada peristiwa risiko, seseorang ditanggung hingga persentase tertentu, misalnya sampai 80 persen,” katanya.

Di tengah


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0