Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Deddy Yevri Hanteru Sitorus. Foto: ist.
KOSADATA — Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Deddy Yevri Hanteru Sitorus mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini tengah dihadapkan dengan persoalan lemahnya pembangunan Industri yang berkelanjutan.
Deddy menuturkan, kegagalan industralisasi tercermin dari rendahnya minat investor global untuk menanamkan modal di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa dirinya pernah bertemu sejumlah fund manager internasional saat gejolak ekonomi di Hong Kong yang siap menanamkan modal triliunan rupiah di Indonesia, namun tawaran tersebut justru ditolak.
“Ada uang ratusan triliun dari Hong Kong ditawarkan ke Indonesia, tapi semuanya angkat tangan. No thank you. Kita gagal,” kata Deddy dalam keterangan tertulisnya yang diterima pada Minggu, 21 Desember 2025 di Jakarta.
Deddy menilai, lemahnya pertumbuhan Industri, disebabkan oleh kecenderungan negara untuk berfokus terhadap kebijakan-kebijakan Industri ekstraktif. Padahal, menurutnya, Industri tersebut tidak memiliki dampak jangka panjang bagi perekonomian nasional.
Ia juga menyoroti posisi serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) saat ini. Deddy mempertanyakan apakah Kadin hanya akan berfungsi sebagai penyedia akses dan lapangan kerja, atau benar-benar menjadi instrumen strategis dalam pembangunan ekonomi nasional.
“Tanpa swasta, negara pasti timpang. Tapi Kadin ini mau jadi apa? Kalau kita tidak punya imajinasi bersama, sulit membayangkan bagaimana potongan-potongan ini disatukan dalam Undang-Undang Kadin,” ujarnya.
Deddy melontarkan kritik yang tajam terhadap strstruktur Kadin yang menurutnya sarat akan pola pikir sentralistik.
Menurutnya, pola pikir seperti itu, hanya akan menghasilkan kebijakan yang tidak benar-benar merepresentasikan kepentingan ekonomi sektoral secara menyeluruh akibat daerah yang terlalu bergantung pada pusat.
Untuk itu, Deddy mendorong agar Kadin melepaskan diri dari persoalan kewenangan dan politik praktis. Kadin, katanya, harus
Comments 0