Foto: ist
Guru Besar Manajemen Logistik dan Rantai Pasok UGM, Prof. Kuncoro Harto Widodo, menyoroti kerentanan jaringan transportasi dan logistik pangan serta energi di Sumatra. Ia menyebut setidaknya ada tiga persoalan utama, yakni kondisi infrastruktur yang belum memadai, keterlambatan penyaluran bantuan logistik, serta lemahnya desain simpul dan jaringan transportasi yang adaptif.
“Kendala di titik simpul dan jaringan transportasi menyebabkan gangguan terhadap ketahanan pangan di kawasan terdampak,” imbuhnya.
Menurut Kuncoro, tantangan utama logistik di Sumatra berasal dari minimnya jalur alternatif di wilayah rawan bencana dan lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Untuk jangka panjang, ia mendorong penerapan desain jaringan logistik yang lebih resilien, termasuk redundansi jalur, dynamic routing, desentralisasi gudang logistik, serta penguatan konektivitas laut.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Dr. Nani Hendiarti, menyatakan pemerintah masih memiliki cadangan beras yang cukup di wilayah terdampak. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Aceh tercatat sekitar 87.000 ton, Sumatera Utara 31.000 ton, dan Sumatera Barat 7.700 ton.
“Stok ini dapat dimanfaatkan untuk penanganan bencana dengan mekanisme penyaluran yang berjenjang,” kata Nani.
Namun, penyaluran bantuan pangan menghadapi sejumlah kendala, mulai dari terputusnya infrastruktur, keterbatasan BBM, hingga gangguan pasokan listrik. Dari total 24.000 ton bantuan pangan yang disiapkan, realisasi penyaluran baru mencapai sekitar 10.000 ton.
Pemerintah juga mengalihkan Satuan Pelayanan (SP) program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi dapur umum darurat yang melayani lebih dari 1,5 juta warga terdampak.
Di sektor energi, Direktur Rekayasa dan Infrastruktur Darat PT Pertamina Patra Niaga, Hari Purnomo, mengatakan pihaknya melakukan berbagai upaya mitigasi untuk memastikan pasokan BBM dan LPG
Comments 0