Pesilat Beksi Kong Noer tampil di Pencak Malioboro Festival 8. Foto: ist
Panggung utama ini menjadi ajang unjuk kebolehan para pesilat dalam menampilkan kekhasan aliran dan perguruan masing-masing.
Tak hanya pertunjukan, acara juga dimeriahkan dengan Lomba Koreografi Pencak, yang mendorong praktisi silat berkreasi menyajikan atraksi menarik bagi masyarakat umum. Untuk anak-anak, tersedia Lomba Mewarnai Gambar Pencak Silat sebagai cara menanamkan kecintaan terhadap warisan budaya sejak dini.
![]()
Agenda lain adalah Workshop Pencak Silat, di mana masyarakat bisa berinteraksi langsung sekaligus memahami filosofi seni bela diri asli Nusantara ini, salah satunya silat Beksi asal Betawi. Gelaran ditutup dengan Kirab Pencak Malioboro, pawai spektakuler yang menampilkan keberagaman perguruan silat di sepanjang jalan ikonik Yogyakarta itu.
Saat barisan Beksi Kong Noer melintas, tepuk tangan penonton pecah. Seorang turis asal Belanda bahkan berseru kagum, “Amazing! It’s like dancing, but powerful!” sambil merekam jurus tangkisan khas Beksi.
Malioboro sore itu bukan sekadar destinasi belanja batik dan gudeg. Ia menjelma menjadi gelanggang terbuka, tempat tradisi tua Nusantara kembali bernapas—menyapa siapa saja yang mau berhenti sejenak untuk melihat.
![]()
Herdi mengatakan, keikutsertaan silat Beksi Kong Noer dalam dilakukan untuk memajukan dan mengenalkan tradisi Betawi di kancah nasional dan internasional. Meski tanpa bantuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Herdi memastikan kebudayaan Betawi harus tetap hidup hingga akhir zaman.
“Semangatnya bukan soal besar-kecilnya biaya, tapi bagaimana kami bisa hadir di Yogyakarta, ikut meramaikan Malioboro,” ucap Herdi.***
Update terus berita terbaru KOSADATA di Google News.
Comments 0