Foto: dok. ITB
KOSADATA — Pembangunan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) tak selalu dimulai dari proyek besar. Shana Fatina justru memulainya dari kebutuhan paling mendasar: air bersih.
Founder dan CEO Komodo Water itu menilai, akses air bersih menjadi fondasi penting yang mampu menggerakkan perubahan sosial hingga ekonomi masyarakat. Gagasan tersebut ia sampaikan dalam Studium Generale di Institut Teknologi Bandung (ITB) bertema “Dari Desa ke Destinasi Dunia: Pemberdayaan Masyarakat dalam Ekosistem Pariwisata”.
“Pembangunan tidak bisa langsung bicara destinasi wisata kelas dunia, kalau kebutuhan dasar seperti air belum terpenuhi,” kata Shana seperti dilansir laman resmi ITB, Senin, 6 April 2026.
Ia mencontohkan kondisi di Labuan Bajo, yang dikenal sebagai pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo. Di balik statusnya sebagai destinasi premium, masih ada warga yang harus berjalan hingga enam jam demi mendapatkan air bersih.
Bahkan, lebih dari 25 persen penghasilan bulanan masyarakat di wilayah tersebut habis hanya untuk membeli air.
Menurut Shana, persoalan ini berdampak langsung pada produktivitas warga. Ketika akses air membaik, waktu masyarakat tidak lagi habis untuk memenuhi kebutuhan dasar.
“Nelayan sekarang bisa produksi es sendiri tanpa harus ke kota. Pertanian seperti kopi juga berkembang lebih optimal,” ujarnya.
Shana menegaskan, pembangunan di wilayah 3T harus dilihat sebagai ekosistem yang saling terhubung. Ia menyebut air sebagai fondasi bagi berbagai sektor.
“Air bukan hanya kebutuhan dasar, tapi juga untuk budaya, ekonomi, dan pariwisata—water for culture, water for economy, and water for tourism,” katanya.
Ia juga mendorong perubahan paradigma dalam pengembangan pariwisata. Menurutnya, pendekatan lama yang berfokus pada “sea, sun, and sand” perlu bergeser ke arah yang lebih berkelanjutan.
“Sekarang
Comments 0