Farid Abdul Hakim, Penulis, Pengurus PP. Pemuda Persis, sekaligus Aktivis Dakwah Pelosok.
KOSADATA- Membicarakan arah masa depan gerakan Pemuda Persatuan Islam (Pemuda Persis) sejatinya bukan sekadar membahas pertumbuhan organisasi di atas kertas administratif, melainkan tentang keberanian menentukan orientasi perjuangan. Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah jamiyyah ini akan terus mengamankan diri di wilayah-wilayah yang secara sosial sudah sangat kondusif bagi Dakwah, ataukah berani mengambil posisi mengambil risiko sebagai pelopor Dakwah di wilayah terluar yang secara geografis, sosial, dan infrastruktur jauh menantang namun sangat mendesak untuk digarap?
Gugatan ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat secara objektif realitas disparitas kondisi umat Islam di Indonesia hari ini. Di satu sisi, ada wilayah-wilayah yang mengalami surplus sumber daya Dakwah yang luar biasa. Namun di sisi lain, masih hamparan daerah pelosok yang justru mengalami defisit pembinaan keislaman yang sangat mendasar.
Kondisi umat Islam di pelosok Nusantara masih menyisakan catatan kritis yang memprihatinkan. Tidak sedikit komunitas muslim yang hidup dalam keterisolasian akses pendidikan agama, minimnya kehadiran dai, serta rapuhnya kesinambungan pembinaan. Di beberapa titik rawan, persoalan Dakwah bahkan bukan lagi sekadar upaya meningkatkan kualitas pemahaman agama, melainkan pertarungan hidup-mati mempertahankan keberlangsungan identitas keislaman itu sendiri.
Salah satu contoh nyata yang patut menjadi bahan refleksi dan tamparan keras bagi kita bersama adalah kondisi di wilayah Toraja Utara, tepatnya di Dusun Rantebua, Sanggalangi. Secara historis, wilayah ini pernah memiliki komunitas muslim yang cukup besar. Nahasnya, akibat lemahnya pembinaan, absennya dai yang bersedia menetap, serta putusnya akses literasi Islam yang berkelanjutan, jumlah umat Islam di sana menyusut amat drastis hingga kini hanya tersisa sekitar 20 Kepala Keluarga (KK).
Fenomena
Comments 0