Foto: dok. UGM
KOSADATA - Ketegangan geopolitik global yang kian memanas dinilai menghadirkan ancaman yang lebih kompleks dibandingkan konflik terbuka. Dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yudistira Hendra Permana menyebut situasi saat ini ditandai oleh tekanan antarnegara tanpa kepastian arah konflik.
“Yang kita hadapi sekarang itu bukan perang terbuka, tetapi situasi yang penuh ketidakpastian, di mana masing-masing pihak saling menekan tanpa benar-benar masuk ke konflik besar, dan kondisi seperti ini justru lebih sulit direspons karena arah perubahannya tidak jelas,” ujar Yudis dilansir laman resmi UGM, Selasa, 7 April 2026.
Menurut dia, kondisi global tersebut merambat ke dalam negeri melalui berbagai saluran ekonomi. Tekanan inflasi yang terjadi saat ini, kata Yudis, lebih banyak disebabkan oleh kenaikan biaya produksi dibandingkan peningkatan permintaan.
Kenaikan harga energi dan bahan baku berdampak langsung pada sektor riil, termasuk komoditas pangan. Gangguan pasokan serta meningkatnya ongkos produksi turut mendorong harga di tingkat konsumen.
“Inflasi yang kita hadapi sekarang lebih banyak berasal dari sisi biaya, dari ongkos produksi yang meningkat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih sehingga tekanan ini terasa semakin berat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa kondisi tersebut memengaruhi kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi. Berdasarkan hasil survei industri, pelaku usaha cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi maupun investasi.
“Pelaku usaha melihat ke depan dengan cukup hati-hati karena tekanan biaya masih tinggi dan ketidakpastian belum mereda, sehingga ekspektasi mereka untuk beberapa bulan ke depan cenderung tidak terlalu optimistis,” katanya.
Di sisi kebijakan, Yudis menilai pendekatan pemerintah masih cenderung berorientasi jangka pendek. Banyak keputusan
Comments 0