Tiga Pekan Tanpa Air Bersih, Warga Malalak Terbantu Instalasi Filtrasi UNAIR

Isma Nanik
Dec 22, 2025

Foto: dok. UNAIR

KOSADATA - Tiga pekan setelah banjir bandang dan longsor memorak-porandakan Malalak, Kabupaten Agam, beberapa kebutuhan paling dasar masih terseok-seok menuju normal. Jalan putus, jembatan patah, dan yang paling terasa: air bersih yang menghilang begitu saja.

Di Jorong Limo Badak—sepetak dusun yang kini menjadi salah satu titik pengungsian—keran-keran tak lagi mengalirkan harapan. Sumber air yang biasa warga manfaatkan untuk mandi, memasak, hingga mengisi dapur umum dekat masjid ikut terbawa material longsor. “Air ada, tapi tak lagi bisa diminum,” kata seorang relawan.

Kondisi itu memicu gerak cepat tak biasa dari Surabaya. Dosen dan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (FST UNAIR) yang tergabung dalam Tim Tanggap Darurat Bencana mengangkut sebuah solusi sederhana: instalasi filter air portabel. Mereka berangkat membawa riset ke medan lumpur.

Danar Arifka Rahman, dosen Teknik Lingkungan UNAIR, menjadi salah satu yang menapakkan kaki di Limo Badak. Ia memetakan titik pemasangan filter: dekat masjid, pusat keramaian, sekaligus dapur umum tempat warga menggantungkan hidup.

“Air kami ambil dari tampungan masyarakat yang mengalir dari atas,” ujar Danar seperti dilansir laman resmi UNAIR, Senin, 22 Desember 2025.

Air itu kemudian dipompa menuju kolong filtrasi—sebuah tabung penyaring berlapis media. “Hasilnya bisa langsung digunakan warga untuk masak, minum, dan kebutuhan harian," katanya.

Instalasi mencapai tahap finishing pada Kamis, 18 Desember 2025. Di sela pemasangan, Danar menyelipkan kelas singkat tentang cara merawat filter. Ia tak ingin alat itu macet setelah ditinggal pulang. 

“Selama rutin dibersihkan, dia bisa bertahan sampai bertahun-tahun,” imbuhnya.

Bagi warga seperti Rio Hanafi, mesin penyaring sederhana itu bukan sekadar alat. Ia menyebutnya “penolong paling


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0