PLG Minas, Wisata Edukasi Gajah Liar yang Jinak

Fahmi Wahyudi
Sep 27, 2025

Foto: BBKSDA Riau

KOSADATA - Di sebuah sudut Riau, tepatnya Desa Minas Jaya, Kabupaten Siak, suara berat belalai yang mengibaskan air terdengar lebih nyaring dari deru mesin truk perkebunan. Di sinilah Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas berdiri, tempat para raksasa sunyi itu dididik agar tak lagi tersesat masuk ke kebun sawit atau permukiman warga.

Perjalanan dari Pekanbaru memakan waktu sekitar satu jam. Begitu tiba di gerbang PLG, aroma tanah basah dan dedaunan kering langsung menyambut. Di dalam area konservasi ini, 19 ekor gajah Sumatra diasuh oleh pawang terlatih. 

Melansir laman BBKSDA Riau, gajah-gajah ini bukan sekadar diternakkan, melainkan dilatih untuk berdamai dengan manusia sekaligus mempertahankan naluri liarnya.

Pengunjung bisa berinteraksi langsung. Ada sesi memberi makan batang tebu, memandikan gajah di kolam, hingga merasakan sensasi menunggangi tubuhnya yang perkasa. Semua dilakukan di bawah pengawasan pawang, menjadikan pengalaman itu lebih mirip kelas etika alam daripada sekadar tontonan wisata.

“Di sini kita ingin masyarakat melihat gajah bukan sebagai hama, tapi sahabat,” kata seorang pawang sembari menepuk perlahan kepala gajah jantan bernama Seruni.

Dari Konflik Lahan ke Wisata Edukasi

Keberadaan PLG tak bisa dilepaskan dari konflik panjang antara gajah dan manusia. Sejak awal 1980-an, ekspansi perkebunan membuat kawanan gajah liar kerap merusak ladang warga. Pemerintah lalu menggagas Operasi Ganesha dan Tata Liman, sebuah upaya besar-besaran menggiring gajah kembali ke habitatnya.

Namun, konflik tak mudah diredam. Dari sinilah lahir gagasan mendirikan pusat pelatihan, pertama kali di Sebanga, Bengkalis, pada 1988. PLG kemudian berpindah-pindah, dari Sebanga ke Balai Raja, hingga akhirnya berlabuh di Tahura Sultan Syarif Hasyim, Minas, sejak 2001.

Kini, selain berfungsi sebagai benteng konservasi,


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0