Foto: dok. BRIN
Ia juga mengusulkan penggunaan tongkang dorong untuk distribusi batubara di sungai Kalimantan karena dinilai lebih stabil dan efisien dibandingkan sistem tarik.
Di sektor perikanan, Abdul Muis mengembangkan kapal nelayan berbahan fiberglass sebagai alternatif pengganti kayu.
“Teknologi ini dapat mengurangi penebangan liar sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat pesisir,” ujarnya.
Kepala PRTT BRIN, Aam Muharam, mengatakan kegiatan Last Lecture menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya inovasi dan kolaborasi di lingkungan riset.
Sementara Pelaksana Harian Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, Taufik Hidayat, menegaskan inovasi menjadi kunci menghadapi ketidakpastian global.
“Kita harus menghadirkan inovasi yang berdampak nyata, termasuk di sektor transportasi yang strategis,” kata Taufik.
Melalui berbagai riset tersebut, BRIN menargetkan terciptanya sistem transportasi nasional yang lebih efisien, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global.***
Berita terkini lainnya bisa diikuti melalui kanal Google News KOSADATA.
Comments 0