LP Ma’arif NU hadir untuk memberikan layanan pendidikan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah, membentuk karakter sekaligus membekali peserta didik dengan ilmu dan akhlak
Agenda keempat, menurutnya, adalah membangun kolaborasi lintas lembaga NU, pemerintah, dan masyarakat untuk membentuk ekosistem pendidikan yang kokoh.
Layanan yang Berjiwa
Di sela penyampaian materi, Prof. Ali menyelipkan petikan filosofi. "Kelemahan laki-laki ada di mata, kelemahan perempuan ada di telinga. Bahasa memiliki rasa, menggugah jiwa," tuturnya, menegaskan pentingnya komunikasi yang bernas dan menggerakkan.
Ia menutup pesannya dengan mengajak para pengurus melihat lebih dalam dari sekadar hasil. "LP Ma’arif NU hadir untuk memberikan layanan pendidikan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah—membentuk karakter sekaligus membekali peserta didik dengan ilmu dan akhlak," katanya.
Dua hari itu mungkin berakhir, namun gema komitmen yang dibangun tak berhenti di pintu keluar Balai Diklat. Dari Bandung, mereka pulang membawa pekerjaan rumah besar: memastikan pendidikan di Jawa Barat bukan hanya soal nilai ujian, tetapi juga nilai hidup. **
Comments 0