Mengapa Pengungsian di Indonesia Belum Aman bagi Perempuan?

Widihastuti Ayu
Dec 10, 2025

Ketua Satgas PPKPT UNAIR, Prof Myrtati. Foto: dok. UNAIR

KOSADATA — Serangkaian bencana yang terjadi di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir memaksa ribuan warga tinggal di lokasi pengungsian. Namun, situasi darurat itu justru membuka kerentanan baru, terutama bagi perempuan. Di tengah keterbatasan ruang dan melemahnya struktur sosial, perempuan menghadapi risiko kesehatan, tekanan psikologis, hingga ancaman kekerasan.

Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi Universitas Airlangga (Satgas PPKPT UNAIR), Prof Myrtati Dyah Artaria, menegaskan bahwa bencana kerap menciptakan ruang yang tidak aman bagi perempuan

“Ketika terjadi bencana, struktur perlindungan sosial melemah. Setiap orang fokus menyelamatkan diri. Dalam kondisi perlindungan yang longgar, muncul peluang bagi oknum yang memanfaatkannya,” ujar Prof Myrta seperti dilansir laman resmi UNAIR, Rabu, 10 Desember 2025.

Menurut Prof Myrta, perubahan drastis dalam tata ruang sosial—dari ruang privat ke tempat penampungan yang serba terbuka—membuat perempuan semakin rentan. Budaya masyarakat yang masih memandang perempuan sebagai pihak yang harus dilindungi menambah kompleksitas. 

“Ketika mereka dipaksa bercampur dalam satu ruang besar, potensi kerawanan meningkat. Itu sangat dipengaruhi budaya setempat mengenai bagaimana perempuan diperlakukan,” katanya.

Ancaman Kekerasan Berbasis Gender

Salah satu risiko yang paling sering muncul di lokasi bencana adalah kekerasan berbasis gender (KBG). Fenomena ini berakar pada ketimpangan kekuasaan dan norma sosial yang merugikan perempuan. Secara fisiologis, ujar Prof Myrta, agresivitas cenderung lebih tinggi pada laki-laki. Namun, penyebab terbesar KBG tetap pada faktor sosial.

“Budaya patriarki, ketidaksetaraan gender, penyalahgunaan kekuasaan, serta rendahnya pendidikan merupakan pemicu utama,” tegasnya.

Perempuan di pengungsian tak hanya menghadapi ancaman fisik, tetapi juga tekanan psikologis akibat kehilangan rumah, keluarga, atau pekerjaan. Pendekatan empatik, kata Prof Myrta,


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0