Anis Rahmatillah. Foto: dok. UGM
“Kadang kita terlalu terpaku pada hasil akhir. Padahal yang penting adalah bagaimana kita terus berjalan setiap hari,” katanya.
Apresiasi pun datang dari kampus. Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi S. Daryono, menyebut Anis sebagai teladan ketekunan.
“Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan batu loncatan untuk mencapai mimpi,” katanya.
Hari itu, ketika toga bertengger di kepalanya, Anis menegaskan satu hal: keterbatasan fisik mungkin membatasi gerak, tetapi tidak pernah bisa membatasi mimpi.***
Update terus berita terbaru KOSADATA di Google News
Comments 0