Foto: ist
KOSADATA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,53 persen ke level 7.830 pada penutupan perdagangan Jumat (29/8), di tengah gelombang aksi demonstrasi di sejumlah daerah. Padahal, di pekan yang sama IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa, yakni 7.926 pada Senin (25/8) dan 7.952 pada Kamis (28/8).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai gejolak pasar ini wajar terjadi akibat meningkatnya ketidakpastian dan kekhawatiran di tengah masyarakat maupun investor.
“Peristiwa ini tentu merupakan pukulan berat bagi bangsa di tengah upaya membangun ekonomi yang kokoh dan berdaulat. Namun kita harap masyarakat tetap menjaga suasana,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, 1 September 2025.
Dalam pernyataannya bersama Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi dan Direktur Utama BEI Iman Rachman, Airlangga menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih solid meski tekanan jangka pendek muncul akibat dinamika politik.
Ia menyebut sejumlah indikator makro menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi kuartal II tercatat 5,12 persen secara tahunan. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur naik ke level 51,5 pada Agustus, setelah sempat berada di 49,2 pada Juli.
Inflasi Juli 2024 juga terkendali di angka 2,37 persen, sementara nilai tukar rupiah berada di Rp16.490 per dolar AS dengan depresiasi 2,35 persen sepanjang tahun. Cadangan devisa per Juli tercatat US$152 miliar.
“Pemerintah memiliki kapasitas dan komitmen menjaga stabilitas ekonomi, melalui koordinasi kebijakan fiskal, moneter, keuangan, dan sektor riil. Sistem perbankan kita sehat sehingga ketahanan ekonomi tetap terjaga,” kata Airlangga.
Ia mengajak dunia usaha tetap tenang dan optimistis agar penciptaan lapangan kerja terus berlanjut. Airlangga menekankan stabilitas
Comments 0