Hutan Adat Dibabat, Anak Muda Papua: Bantu Kami Menjaga Hutan Ini!

Yan Aminah
Oct 13, 2025

Foto: Greenpeace

KOSADATA — Isu lingkungan kembali mengguncang publik. Ratusan hektare hutan adat di Papua dikabarkan habis dibabat untuk kepentingan perkebunan sawit dan pertambangan nikel

Di Raja Ampat, lebih dari 500 hektare vegetasi alami hilang dalam beberapa bulan terakhir akibat eksploitasi tambang. Namun, dari tengah hutan yang mulai gundul itu, suara perlawanan justru datang dari generasi muda Papua.

Pada 23 September lalu, sebuah spanduk bertuliskan bahasa Tehit terpampang di hutan masyarakat adat Knasaimos, Kampung Manggroholo-Sira, Kabupaten Sorong Selatan. 

Kalimatnya sederhana tapi menggetarkan: “Bantu Kami Menjaga Hutan Adat Ini.” Di bawahnya, puluhan anak muda dari berbagai wilayah adat di Papua berkumpul dalam acara Forest Defender Camp (FDC) — kemah pembela hutan yang digelar untuk memperkuat barisan pelindung alam Papua.

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Dr. Hatma Suryatmojo, menyebut langkah para pemuda Papua ini sebagai bentuk kepemimpinan ekologis konkret. 

“Saya menaruh hormat dengan gerakan anak muda Papua. Mereka menjaga sumber pangan lokal, air, dan energi yang semuanya bertumpu pada kesehatan hutan,” ujar Hatma seperti dilansir laman resmi UGM, Senin, 13 Oktober 2025.

Menurut Hatma, perjuangan itu tidak sekadar seruan moral, melainkan juga berbasis inovasi. Para peserta FDC, katanya, mulai memadukan kearifan adat dengan teknologi digital. 

“Mereka memanfaatkan pemetaan partisipatif, dokumentasi digital, dan pelatihan penjaga hutan. Advokasinya menjadi lebih solid dan berjejaring,” katanya.

Ia menilai gerakan seperti All Eyes on Papua dan FDC menegaskan bahwa energi anak muda Papua adalah garda terdepan penjaga ruang hidup. “Hutan adat bukan hanya simbol identitas. Ia adalah mesin ketahanan pangan, energi, dan air yang bekerja setiap hari,” ujarnya. “Menjaga hutan berarti


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0