Fransiscus Go, Foto: Ist
Manusia Flobamora terus beranak-pinak, sedangkan sumber daya alam terbatas dan berkurang kualitasnya. Perantauan dan Traficking menjadi marak, sangat mungkin dipengaruhi oleh keadaan yang demikian.
Di lain pihak, lembaga adat budaya semakin tak berdaya, menghadapi lembaga negara, lembaga agama dan lembaga bisnis. Tiga lembaga terakhir sering bisa berkolaborasi untuk mengelola sumber daya alam dan mengurus masyarakat yang ada.
Ada tabrakan nilai, prinsip, cara pandang serta variasi kapasitas pengetahuan dan ketrampilan untuk membangun kesejahteraan diri serta komunitas. Tetapi terus berlalu diterjang zaman.
Ada fakta selama ini, banyak generasi Flobamora yang cerdas berpendidikan, terbanyak menganyam kehidupan di luar Propinsi NTT dalam banyak profesi bagus. Misalnya pendidikan, cendekiawan, jurnalis, politisi, pengusaha dan profesi modern lainnya. Mereka tetap membangun NTT dari diaspora dengan terutama mendukung kesejahteraan ekonomi keluarga di Flobamora, tanah kampung lahirnya.
Dalam kondisi masyarakat Flobamora yang demikian, hemat saya, bisa dimaklumi lahirnya plesetan terhadap nama NTT. NTT diartikan Nasib Tidak Tentu, Nusa Termiskin dan Terkorup, dan Nanti Tuhan Tolong.
Ada banyak kondisi memprihatinkan dan saling tumpang tindih persoalannya. Apalagi, jika dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan pembangunan Flobamora selama ini. Sering terjsdi, masalah diatasi dengan masalah, seperti korupsi dalam pelayanan publik. Ada juga indikasi, banyak pejabat
Comments 0