Dongeng Ceria: Jaga Tawa Anak-anak Aceh Tamiang di Tengah Bencana

Fahmi Wahyudi
Jan 01, 2026

Foto: dok. BNPB

melipat origami.

Menjelang sore, mereka beristirahat, salat Asar berjamaah, dan mengaji bersama menggunakan Iqro maupun Al-Qur’an. Nilai disiplin dan kemandirian juga diselipkan: merapikan sandal, membersihkan area belajar, hingga menjalankan jadwal piket.

“Dalam kondisi sesulit apa pun, anak-anak tetap berhak belajar dan bermain,” kata Dena. “Kami ingin mereka tahu, mereka tetap bisa tumbuh jadi anak-anak yang hebat.”

Bagi Ayesha Ningrum, 8 tahun, siswa kelas 2 SD, Zona Anak adalah tempat yang menyenangkan. “Aku senang bisa menggambar dan main sama teman-teman,” katanya sambil tersenyum.

Sementara Aufa Bima, 10 tahun, siswa kelas 5 SD, mengaku bahagia karena tetap bisa beraktivitas. “Kami main dan ikut bersih-bersih masjid. Terima kasih kakak-kakak relawan,” ujarnya.

Rasa aman dan kebersamaan itu menjadi penawar trauma yang tak selalu terucap.

Zona Anak tidak dirancang sebagai solusi sementara yang singkat. Program ini akan terus berjalan hingga anak-anak dapat kembali bersekolah secara layak. Sejumlah sekolah masih belum memungkinkan digunakan akibat kerusakan.

Selain pendampingan anak, Dongeng Ceria juga menjalankan program pembersihan sekolah bersama tim gabungan setempat, sebagai bagian dari pemulihan fasilitas pendidikan.

Saat ini, Zona Anak telah hadir di lima titik:

1. Desa Medang Ara, Dusun Suka Makmur, Kecamatan Karang Baru (±50 anak)

2. Desa Medang Ara, Dusun Barang Mekku, Kecamatan Karang Baru (42 anak)

3. Mushola Al Hikmah, Desa Pahlawan, Kecamatan Karang Baru (±50–100 anak)

4. Mushola Lorong B, Kampung Jawa Langsa, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa (±70–100 anak)

5. Dusun 1 dan 2 Desa Pahlawan, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang (±150 anak)

Di tengah puing dan ketidakpastian, Zona Anak menjadi penanda bahwa pemulihan tak hanya soal bangunan. Ada tawa yang harus dijaga, ada masa


1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0