Foto: ist
KOSADATA - Tren angka kematian bayi dan balita di Indonesia menunjukkan perbaikan dalam dua dekade terakhir. Namun, posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lain seperti Singapura dan Malaysia.
Ketua Tim Kerja Kesehatan Balita dan Anak Pra Sekolah Kementerian Kesehatan, Wira Hartiti, menegaskan perlunya upaya berkelanjutan untuk menekan angka kematian, terutama pada masa neonatal yang menyumbang 59 persen dari total kematian bayi.
“Meskipun angka kematian bayi dan balita sudah mendekati target RPJMN, posisi Indonesia masih tertinggal dibanding negara ASEAN lain. Upaya untuk menekan angka kematian harus terus diperkuat,” ujar Wira dalam keterangannya, Rabu, 15 Oktober 2025.
Menurut data Kementerian Kesehatan, angka kematian bayi (AKB) turun dari 57 per 1.000 kelahiran hidup pada 1995 menjadi 16,85 pada 2020. Target RPJMN menetapkan AKB 16 pada 2024 dan 9,9 pada 2029. Sementara Angka Kematian Balita (AkBa) menurun dari 40 per 1.000 kelahiran hidup pada 2012 menjadi 19,83 pada 2020, dengan target 11,29 pada 2029.
Meski begitu, capaian tersebut masih di bawah negara tetangga. Pada 2023, Singapura mencatat AKB 1,72 dan AkBa 2,07, sedangkan Malaysia memiliki AKB 6,75 dan AkBa 8,08.
Selain kematian anak, stunting menjadi sorotan pemerintah karena berdampak langsung pada kemampuan kognitif dan produktivitas anak di masa depan. Wira menyebut 16 provinsi penyumbang 80 persen kasus stunting harus menjadi fokus intervensi.
“Mencegah stunting bukan hanya soal gizi, tetapi juga edukasi keluarga, layanan kesehatan dasar, dan deteksi dini agar balita tumbuh optimal,” ujarnya.
Data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat terdapat 3,6 juta balita stunting, dengan jumlah terbesar di Jawa Barat (683.348 anak),
Comments 0